ROCK MINISTRY MALANG - ROCK MINISTRY MALANG - ROCK MINISTRY MALANG - ROCK MINISTRY MALANG - ROCK MINISTRY MALANG - ROCK MINISTRY MALANG - ROCK MINISTRY MALANG - ROCK MINISTRY MALANG - ROCK MINISTRY MALANG - ROCK MINISTRY MALANG

BE RADIANT ! (JADILAH CEMERLANG DAN BERCAHAYA)



Minggu, 02 Oktober 2011
Pdt. Ir. Putu Arnawa, MPM.

Dalam tema gereja kita bulan ini, Tuhan menginginkan kita untuk belajar mengenai “Be Radiant” atau jadilah bersinar, cemerlang dan berseri-seri. Kata Radiant dalam kamus menjelaskan mengenai sesuatu atau seseorang yang sangat terang dan bersinar shg dia meradiasikan/memancarkan terangnya yang termasuk di dalamnya adalah memancarkan sinar/cahaya (bercahaya), membuat terang, cemerlang/transparan/dapat dilihat dengan jelas serta berseri-seri/joy.

Ketika kita mendengar kata selalu bersinar, cemerlang, dan berseri-seri maka kita akan teringat oleh salah satu bangunan di dekat pantai yang senantiasa meyinari laut yaitu merucusuar. Sama seperti halnya mercusuar, TUHAN menginginkan kita untuk tetap bersinar menerangi setiap kegelapan yang ada.

Jika kita melihat di dalam Efesus 5 : 27 yang menyebutkan bahwa, ”Supaya dengan demikian ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang (As a Radiant Church) tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.” Dari sini kita bisa melihat bahwa cemerlang atau bersinar bagi Tuhan adalah kudus dan tidak bercela. Namun, bagaimanakah kita dapat membuat diri kita menjadi bersinar?

Pertama, kita harus hidup kudus dan bergaul dengan Tuhan dengan sepenuh hati kita. Karena jika kita mengenal Kristus dengan sangat dekat, kita dapat mengekspresikan Kristus dalam hidup kita. Dapat kita baca di dalam Keluaran 34 : 28 - 35, dikatakan bahwa wajah Musa bercahaya setelah bersekutu dengan Tuhan selam 40 hari 40 malam tanpa makan dan minum. Dalam hal ini, kita tidak harus melakukannya tanpa makan dan minum selama 40 hari 40 malam. Namun, Tuhan ingin menekankan bahwa cahaya dapat ditemukan di dalam diri seseorang yang bergaul erat dengan Tuhan.

Menurut penelitian, sebenarnya tubuh kita bisa mengeluarkan cahaya. Namun, cahaya yang dipancarkan tubuh kita sama sekali tidak cukup untuk menuntun kita menghadapi kegelapan. Di dalam Ibrani 1 : 3a berkata, ”Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan.” Berarti, cahaya terang yang menopang manusia adalah cahaya kemuliaan dari Allah. Sebelum Adam dan Hawa terjatuh dalam dosa, mereka telanjang namun sama sekali tidak malu. Hal ini disebabkan oleh adanya kemuliaan Allah yang menutupi mereka.

Di dalam Galatia 2 : 20a berkata,”Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Jadi, jika Kristus yang adalah cahaya kemuliaan Allah itu hidup di dalam kita, maka hidup kita adalah bercahaya di hadapan Tuhan dan manusia.

Setelah kita harus hidup kudus dan bergaul dengan Tuhan dengan sepenuh hati kita maka hal Kedua, kita harus hidup dalam keadilan dan takut akan TUHAN. Karena seperti yang di jelaskan di dalam 2 Samuel 23 : 3 - 4 menyebutkan bahwa,”Allah Isreal berfirman, gunung batu Israel berkata kepadaku: Apabila seorang memerintah manusia dengan adil, memerintah dengan takut akan Allah, ia bersinar seperti fajar di waktu pagi, pagi yang tidak berawan, yang sesudah hujam membuat berkilauan rumput muda di tanah.” Hidup dengan intergritas dan keadilan dalam masa sekarang adaah hal yang sulit. Tetapi, kita harus menjadi berbeda dan melawan semua arus yang ada dengan tetap berkomitmen menjaga keadilan dan takut akan TUhan.  

Setelah kita tahu bagaimana bercahaya di hadapan Tuhan, kita harus mengetahui bagaimana menggunakan “cahaya” tersebut untuk orang lain. Di dalam Matius 5 : 14 - 16 berkata bahwa kita adalah terang dunia. Sering kali kita berdoa kepada Tuhan supaya Tuhan menjadikan kita terang bagi orang lain. Padahal, sejak awal kita sudah dibuat untuk menjadi terang dunia. Karenanya, berdoalah agar kita dapat menggunakan terang yang kita miliki untuk dunia.

Jika setiap anak Tuhan adalah terang, maka gereja Tuhan adalah rumah terang, atau light house (mercusuar). Apakah fungsi dari mercusuar tersebut?

1.      Memandu kapal untuk mencapai tujuannya masing-masing.
Sama seperti mercusuar, gereja juga harus memandu setiap individu yang ada untuk mencapai tujuan hidup mereka masing-masing. Kemudian kita juga harus memberikan arah pada orang-orang yang tersesat. Gereja bukanlah tempat bagi orang-orang yang kudus saja, tetapi juga bagi orang-orang tersesat yang mencoba mencari jawaban dari masalah hidup. Di dalam Yehezkiel 3 : 18 - 21 mengajarkan kita untuk tetap mengingatkan orang-orang sekeliling kita agar menjauh dari dosa. Selain itu kita juga memberikan pemeliharaan, perlindungan, dan penyediaan bagi orang-orang yang datang. Selain pemeliharaan secara fisik, kita juga harus belajar untuk memberikan pemeliharaan secara rohani. Sebagai contoh, kita harus mendoakan dan berpuasa bagi mereka yang membutuhkan.

2.       Rumah Terang (Menyediakan terang dan member solusi)
Sama halnya dengan bangunan mercusuar yang ada di tengah laut, maka kita harus mengingat bahwa kita adalah “rumah terang”, karena kehidupan orang-orang percaya adalah sebagai Light House dimana orang punya ekspektasi/pengharapan, segelap apapun hidupnya (masalahnya), ia akan menemukan TERANG (JAWABAN) yang dapat membebaskan masalahnya! Seperti yang terdapat di dalam Matius 5 : 15 – 16. Jadi, esensi mercusuar adalah bukan sebagai bangunan tetapi ketersediaan terang/cahaya. Walaupun jika kita mendapatai terdapat rumah/house di tengah laut maka tanpa terang/light itu tidak ada gunanya karena kedatangan kapal tidak tentu dan itu sebabnya terang itu harus selalu menyala.

Karena itu, kita harus berusaha agar mereka yang melangkahkan kaki ke gereja dan dapat menerima terang atau jawaban atas masalah-masalah mereka. Dimana kita tidak bisa memprediksikan kedatangan orang-orang tersebut secara pasti. Karena itu, sama seperti mercusuar, kita harus tetap menyala dengan terang diantara kegelapan.

Di dalam Immamat 24 : 3 berkata, ”Harun harus tetap mengatur lampu-lampu itu di depan tabir yang menutupi tabut hukum, di dalam Kemah Pertemuan, dari petang sampai pagi, di hadapan TUHAN. Itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun” Dimana ayat ini berarti bahwa petang sampai pagi itu adalah masa gelap, masa sulit, masa padang gurun, masa ujian, masa orang-orang membutuhkan pertolongan. Sama seperti bulan lalu, kita masih terus diingatkan TUHAN untuk tetap waspada. Karena sama seperti perumpamaan tentang gadis-gadis bijaksana dan gadis-gadis bodoh, kita harus menyiapkan minyak zaitun agar cahaya kita tetap menyala dalam masa-masa sulit.

Mulai hari ini mari kita berusaha selalu agar hidup kita dapat memberi solusi terbaik bagi orang lain. Teruslah belajar dan berlatih. Teruslah berkomitmen untuk setiap saat membangun hubungan yang lebih intim lagi dengan Tuhan sehingga cahaya kemuliaan Allah terpancar dari kita dan memberkati orang lain. Be Radiant!