ROCK MINISTRY MALANG - ROCK MINISTRY MALANG - ROCK MINISTRY MALANG - ROCK MINISTRY MALANG - ROCK MINISTRY MALANG - ROCK MINISTRY MALANG - ROCK MINISTRY MALANG - ROCK MINISTRY MALANG - ROCK MINISTRY MALANG - ROCK MINISTRY MALANG

BERSINAR SEPERTI AYUB


Minggu, 09 Oktober 2011
Pdt. Daniel Pingardi

Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.” Amsal 4:18

Cahaya fajar merupakan gambaran bagi kehidupan orang benar, bukan bagi orang percaya. Mengapa? Karena tidak semua orang percaya memiliki hidup yang benar. Saat ini kita hidup dalam dunia yang berorientasi kepada hasil. Kerap kali gemerlap kesuksesan lebih disorot ketimbang kekelaman masa lalu maupun masa transisi yang bergejolak. Walaupun berada dalam satu dunia, kita tetap mengemban tanggung jawab sebagai orang percaya, yakni keharusan untuk melalui proses sehingga kita dapat terbentuk menjadi orang yang memiliki hidup benar.
Hidup yang melalui proses bukan berarti hidup yang menyedihkan apalagi mengenaskan. Allah pun tidak pernah mengajari dan merencanakan manusia untuk hidup dalam kemiskinan, berantakan atau kesusahan. Tapi manusia yang memilih untuk menyulitkan dirinya sendiri dan hidup dalam kesengsaraan tersebut. Kita dapat memilih untuk memiliki hidup yang indah, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari, bahkan berakhir indah seperti hidup seorang Ayub, yang diberkati bahkan 2 kali lipat.
Ayub berkata di dalam Ayub 42 : 2, “aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.” Kata tahu dalam Alkitab berasal dari 2 terjemahan yakni ginosko dan yadah. Ginosko berarti tahu karena diberitahu atau karena melihat petunjuk, sedangkan yadah berarti tahu karena mengalami secara pribadi. Kata tahu yang digunakan Ayub pada ayat 2 diterjemahkan dari kata yadah. Hal ini kemudian terbukti pada ayat 5 yang berbunyi, “hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” Seperti halnya Ayub yang mengalami sendiri campur tangan Tuhan dalam kehidupannya, kiranya kita juga tidak hanya mengenal Allah dari kesaksian orang tetapi biarlah kita juga mengalami dan mengenal Ia secara pribadi dengan terus membangun hubungan dengan-Nya.

Terdapat 3 hal yang dapat kita perhatikan dari kehidupan Ayub :
1.      Perhatikan motivasi kita
Pada Ayub 1 : 4 5 tertulis, “Anak-anaknya yang lelaki biasa mengadakan pesta di rumah mereka masing-masing menurut giliran dan ketiga saudara perempuan mereka diundang untuk makan dan minum bersama-sama mereka. 5Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: “Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dn telah mengutuki Allah di dalam hati.” Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.”
Dari ayat tersebut dapat kita lihat bahwa Ayub mempersembahkan korban bukan karena kecintaannya pada Tuhan, atau karena pemahamannya bahwa mempersembahkan korban merupakan bentuk ucapan syukur pada Tuhan. Tapi motivasinya untuk mempersembahkan korban ialah untuk menyelamatkan anak-anaknya. Ayub memiliki motivasi yang tidak benar. Jika kita menghendaki hidup yang cemerlang (Be Radiant), maka bereskan dulu motivasi iman kita dihadapan Tuhan dalam segala hal. Jangan datang ke gereja karena ingin bertemu dengan teman dsb., atau melakukan persepuluhan karena ingin menerima berkali lipat berkat.
Melalui proses yang dilalui Ayub, imannya dimurnikan. Hendaknya melalui proses pun kita dapat semakin dimurnikan hingga kita dapat bercahaya. Saat doa belum dijawab, tetaplah percaya bahwa Tuhan adaldah penjawab doa yang tepat pada waktunya. Saat hidup seakan buntu, tetaplah berkata Tuhan adalah jalan, kebenaran dan hidup. Maka dari itu evaluasilah motivasi iman kita dan biarkan situasi dan kondisi mengasah kita.  

2.      Perhatikan setiap perkataan kita
Pada Ayub 42 : 6 tertulis, “Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” Ayub berkata ia mencabut perkataannya, karena memang ada perkataannya yang tidak tepat yang sudah dia ucapkan. Sebelumnya Ayub pernah berkata “Tuhan yang memberi, Tuhan juga yang mengambil”. Kata-kata ini tidak tepat karena Tuhan pasti memberi lalu menambahkan.
Tertulis pada Matius 12 : 37, “karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” Maka berhati-hatilah pada apa yang kita ucapkan, karena akan terjadi sesuai perkataan kita. Jangan menghukum diri sendiri dengan apa yang terucap dari mulut kita. Jangan pernah berkata “mana mungkin” karena tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan. Begitu juga dengan setiap perkataan kita, kita harus lebih berhati-hati dalam memperkatakan perkataan kita terhadap orang lain. Hendaklah perkataan kita adalah perkataan yang membangun dan menjadi berkat sehingga kita bisa memancarkan Tuhan dari setiap perkataan kita.
      Pada semua hal yang terjadi, selalu ingat 3 hal penting. Pertama, ada pemeliharaan dari sang Raja. Kedua, ada perlindungan dari sang Raja. Ketiga, ada penyediaan dari sang Raja. Karena Raja kita berkepentingan atas studi, bisnis, maupun pekerjaan kita. Walaupun untuk sementara kita tidak tahu apa yang harus dilakukan, tapi kita harus tahu bahwa cara-Nya ajaib, dan sedang menunggu waktu yang tepat. Itu sebabnya, saat menunggu, jangan ungkap hal apa pun yang dapat melemahkan kita.   

3.      Perhatikan sikap hati
Pada Ayub 42 : 10 tertulis, “Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu.” Yang menjadi fokus bukan kata-kata dua kali lipat tapi setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya. Pada Ayub pasal 6 terungkap kekecewaan Ayub pada sahabat-sahabatnya dimana kondisi yang dialami Ayub juga dapat kita alami. Namun, bisakah kita berdoa untuk orang-orang yang mengecewakan, menghina, mencaci-maki dan yang tidak percaya pada kita? Dapatkah kita tetap berdoa dan melepaskan pengampunan bagi mereka? Pasti kita bisa di saat kita mau untuk berusaha melakukannya.
Telah tertulis pada Amsal 4 : 23, “jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Pada Kitab terjemahan baru ayat ini ditulis, “jagalah hatimu baik-baik karena hatimu menentukan jalan hidupmu.” Biarlah kita menjaga sikap hati kita dan tetap murni di hadapan Allah.
  
            Melalui 3 hal yang dapat kita perhatikan dari kehidupan Ayub, kiranya kita dapat mengkoreksi motivasi iman, mewaspadai ungkapan, dan menjaga sikap hati, hingga hidup kita dapat semakin benar dan bercahaya di hadapan siapa saja.