Minggu, 16 Oktober 2011
Pdt. Yosi Here
“Anak-anak Yehuda ialah Peres, Hezron, Karmi, Hur dan Syobal.” 1 Tawarikh 4:1
Bangsa Israel memiliki kebudayaan yang kental dan terus diturunkan pada generasi berikutnya. Salah satu adat yang terus dipertahankan ialah mencatat semua keturunan. Itu sebabnya kita dapati kitab Tawarkih yang penuh berisi daftar keturunan bangsa Israel. Tidak hanya mencatat, tapi mereka juga mengabadikan kisah pertolongan Tuhan dalam hidupnya dengan membuat penanda atau pengingat. Ada yang membuat penanda itu dalam bentuk ukiran di tongkatnya. Setiap awal tahun, semua generasi akan berkumpul dan mendengarkan kisah pertolongan Tuhan yang dialami oleh generasi tertua.
Nama Yehuda berarti praise, atau pujian dan penyembahan. Ia adalah gambaran hadirat Tuhan yang memancar dari dalam. Pada Bulan Oktober ini, tidak ada cara lain untuk menjadi bersinar (Be Radiant) selain memancarkan kemuliaan Tuhan dari dalam diri kita. Penyertaan Tuhan dalam kehidupan Yehuda diabadikan melalui nama yang diberikan Yehuda bagi kelima anaknya.
Nama anak yang pertama ialah Peres. Peres artinya breaktrough, atau terobosan. Ketahuilah bahwa dalam hadirat Tuhan, Ia mampu mengubah from zero to hero, artinya mengubah dari bukan siapa-siapa menjadi seorang pahlawan. Dalam hadirat-Nya ia akan memberikan terobosan bagi hidup kita. Itu sebabnya, jangan menjauh dan senantiasa cari wajah-Nya.
Nama anak yang kedua ialah Hezron yang berarti enclosed, surround (menutup, mengelilingi). Pada mazmur 125:1-2 tertulis, “Orang-orang yang percaya kepada TUHAN adalah seperti gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya. 2Yerusalem, gunung-gunung sekelilingnya; demikianlah TUHAN sekeliling umat-Nya, dari sekarang sampai selama-lamanya.” Gunung Sion adalah gunung batu, gunung yang tersusun atas batu-batu besar dan yang celah antar batunya akan menjadi perlindungan bagi para musafir saat ada badai pasir. Di sekeliling Yerusalem, terdapat banyak gunung yang mengelilingi dan melindungi Bangsa Israel.
Terkadang kita tidak menyadari bahwa saat kita berada dalam penyembahan, maka Allah akan memberikan payung perlindungan yang akan mengelilingi kehidupan kita. Tertulis pada Roma 8:28, “kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Itu sebabnya jangan takut dan jangan gentar pada apapun yang terjadi dalam kehidupan kita. Selama kita setia dalam penyembahan, maka Allah pun akan terus melingkupi kita.
Nama anak yang ketiga ialah Karmi yakni fruitful atau berbuah. Setiap orang yang tinggal dalam hadirat Tuhan pasti akan berbuah. Untuk bisa berbuah, semua harus diawali dengan biji yang bersedia mati. Biji dalam diri kita dapat berupa hidup yang bersedia dibentuk atau mimpi dan cita-cita yang mau ditaklukkan dibawah kaki Allah. Supaya dapat berbuah lebat, sebuah pohon juga akan dipangkas. Layaknya pohon yang harus mengalami pemangkasan, kita pun dapat mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan hari-hari ini. Namun tetap tinggal dalam Tuhan, dan ia akan membuat yang kondisi tidak enak itu menjadi jalan untuk kita dapat berbuah lebih lebat.
Nama anak yang keempat ialah Hur yang berarti liberty (kebebasan, kemenangan). Ketahuilah bahwa tidak ada kondisi yang tidak mampu dipulihkan oleh Tuhan. Jika yang meninggal dapat dihidupkan kembali, yang sakit penyakit yang terparah sekalipun (tumor, kanker) dapat Tuhan sembuhkan, apalagi segala bentuk keterikatan kita pada masa lalu atau obat-obatan mampu Tuhan bebaskan. Karena Ia sanggup menggunakan cara-cara yang ajaib untuk menolong kita. Itu sebabnya jangan takut, percaya saja!
Nama anak yang kelima ialah Syobal. Syobal berarti path, jalan kecil atau jalan setapak. Ikuti arah atau petunjuk yang diberikan Tuhan, maka Anda akan sampai pada destiny yang telah Tuhan rencanakan bagi hidup Anda. Seperti Bangsa Israel yang selalu mengikuti arah tiang api dan tiang awan, maka ikutilah tuntunan Tuhan dalam hidup Anda.
Mengeluarkan Israel dari tanah perbudakan adalah hal yang mudah bagi Allah. Tapi mengeluarkan Israel dari pola pikirnya membutuhkan waktu 40 tahun. Saat mereka tiba di tanah perjanjian, mereka kebingungan karena tiang api, tiang awan tidak lagi menuntun mereka, dan roti mana tidak lagi turun dari langit. Jangan tempatkan Tuhan pada cara pertolongan dan mujizat seperti yang kita inginkan. Tuhan punya cara yang tak terbatas untuk menolong kita lebih dari yang mampu kita bayangkan. Itu sebabnya, jangan pernah tinggalkan waktu mezbah dan waktu penyembahan.
Melalui pemberian nama ini, Yehuda sedang menanamkan warisan bagi anak-anaknya. Sehingga saat namanya dipanggil, mereka akan mengerti dan mengingat pertolongan Tuhan. Warisan yang kita berikan bagi anak cucu kita sebenarnya akan suatu saat menjadi warisan yang terbaik untuk kita. Bawa dan kenalkan mereka pada hadirat Allah sehingga mereka akan mengalami terobosan, dikelilingi oleh perlindungan Allah, berbuah, kebebasan, juga mengalami tuntunan Tuhan.
