Minggu, 23 Oktober 2011
Pdm. Andreas Ong
Sesulit dan seberat apa pun situasi yang menerpa hidup ini, jangan biarkan fokus pada Allah hilang daripada kita. Usia boleh mencapai 70, 80 bahkan 85 tahun, tapi ia tetap jauh lebih pendek daripada kehidupan kekal. Semua penderitaan kita ada akhirnya. Kesuksesan juga punya masa berlaku. Hidup ini fana, jadi jangan cintai bumi ini secara berlebihan. Kita hanyalah seorang musafir yang tinggal sementara di bumi lalu kembali pada kekekalan.
Pada kisah 5 gadis bijaksana dan 5 gadis bodoh, para gadis bijaksana membawa pelita dan minyak dalam buli-buli sedangkan gadis bodoh hanya membawa pelita (Matius 25: 1-13). Pada akhirnya, hanya pelita gadis bijaksana yang dapat menyala pada saat kedatangan sang mempelai. Dari pengajaran ini, Tuhan mengharapkan kita untuk tidak padam sampai kedatangan-Nya. Menjadi bercahaya (Be Radiant) itu harus terus menerus memancar, karena saat cahaya kita padam, bisa jadi saat itulah sang mempelai datang.
Menjadi terang dan berbuat baik adalah hal yang mudah untuk dilakukan. Saat sedang bahagia, maka kita memiliki tendensi untuk membagi kebahagiaan dengan orang lain. Saat harta sedang bergelimang, maka kita dapat memancarkan sukacita dan damai sejahtera. Tapi menjaga konsistensi cahaya ini yang tidak mudah. Menjadi mercusuar yang harus terus menyala selama ada kapal berlayar adalah hal yang sulit. Begitu pun kita, dalam kondisi apa pun kita harus tetap dapat memberi ampun, tetap semangat melayani, juga tetap teguh berdiri di tengah permasalahan. Untuk itu, kita butuh anugerah Tuhan untuk memampukan kita menjadi mercusuar yang terus bercahaya.
Pada 2 Korintus 4: 7-10 tertulis, “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. 8Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; 9kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. 10kai senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.”
Be Radiant dikontradiksikan dengan kondisi ekstrim. Saat hidup sedang enak, pekerjaan lancar, rumah tangga tidak bermasalah, kondisi finansial mapan, kebanyakan orang Kristen akan terlihat cemerlang. Namun, kualitas terang kita diuji melalui hal-hal yang tidak mengenakkan ini. Pada ayat 8 tertulis, “..namun tidak terjepit,” dalam terjemahan ini tidak terjepit ditulis sebagai tidak terlihat lemah dan teraniaya. Firman ini menunjukkan bahwa biarlah di situasi apa pun kita tetap kuat dan tidak terlihat lemah.
Kemudian pada ayat 8 juga tertulis, “kami habis akal, namun tidak putus asa.” Semua tokoh Alkitab teruji dan terpancar terangnya saat dunia menjadi gelap. Musa dapat terang bahkan disebut sebagai orang paling lembut hati, setelah ia memimpin bangsa yang keras kepala selama puluhan tahun. Dunia boleh memandang betapa sulitnya perkara yang harus kita hadapi. Tapi jangan biarkan dunia memandang kita sebagai orang yang lemah. Sehingga dunia akan bertanya-tanya apa yang ada dalam kita, dan terang kita pun akan berpendar bagi dunia.
Yesus juga mengajarkan pada kita untuk tetap tenang di tengah persoalan. Saat Yesus naik kapal bersama muridnya, dan tengah malam kapal itu terombang-ambing terkena badai, Yesus tetap tidur. Ketenangan yang sesungguhnya ialah tetap tenang ditengah amukan badai persoalan. Tenanglah, karena kita, sesuai ayat 9, “..tidak ditinggalkan sendirian.”
Terang yang ada dalam kita tidak boleh seperti lilin, yang makin lama makin pendek dan habis. Untuk bisa seperti Rasul Paulus yang tetap bercahaya ditengah dunia yang semakin gelap, maka sumber terang kita tidak boleh dari diri kita sendiri. Kunci dari Rasul Paulus terdapat pada ayat 6, “Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.” Terang yang ada dalam diri kita bukan dari diri kita sendiri melainkan dari Yesus. Terang yangbukan dari-Nya tidak akan bertahan lama. Kita tidak akan kuat kalau buan Allah yang menguatkan kita.
Sia-sia menjadi terang dengan kekuatan sendiri. Capek dan lelah-lah yang akan dituai dan pasti berakhir pada keengganan untuk bersinar. Allah sendiri yang telah menyatakan diri-Nya sebagai terang dunia. Maka itu, letakkanlah sinar Allah dalam diri kita, karena kita telah kehilangan kemuliaan Allah sejak kejatuhan Adam. Kekristenan bisa menjadi lelah saat kita mengeksploitasi diri untuk memancar-mancarkan terang. Tapi hendaknya bejana tanah liat (tubuh kita) ini diisi oleh harta kemuliaan Allah yang akan membuat kita bersinar tanpa harus kita pancar-pancarkan.
Untuk menjadi terang, langkahnya hanyalah dengan senantiasa mendekat pada Tuhan, seperti rusa yang haus dan merindukan sungai. Hanya Yesus yang memiliki sinar abadi, itu sebabnya jangan pernah berpaling dari-Nya. Harta, pengetahuan, jabatan tidak akan bisa menggantikan keabadian sinar-Nya.
Saat kita merasa capek dan lelah untuk terus mengampuni, mengasihi, atau setia, segera introspeksi diri, bisa jadi kita belum memancarkan sinar Tuhan tapi justru memancarkan sinar kita sendiri. Kita hanyalah tanah liat yang tidak mampu. Ketahuilah bahwa ini adalah usaha menjaring angin. Berhentilah! Biarkan Dia sendiri yang memancarkan sinar-Nya dalam hati kita. Berhentilah dari kehidupan yang agamawi, dan berhenti memanggul kuk yang tidak perlu kita pikul. Ijinkan Tuhan yang memerintah, dan beri Ia tempat seluas-luasnya di hati kita.
Kata manusia berasal dari kata imagodai yang artinya imagine of God (bayangan Tuhan). Untuk menjadi bersinar, kita tidak perlu bertapa di puncak tertinggi, atau menjalankan ritual-ritual yang menyulitkan. Hanya perlu duduk diam dan masuk dalam hadirat-Nya. Berhentilah dari hidup yang melelahkan. Berbuatlah kebaikan bukan karena keinginan kita, tapi karena Roh Kudus yang bekerja dalam hidup kita. Pada 2 Korintus 4: 16 pun tertulis, “sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.”
Akhir kata, biarkanlah hidupmu dipenuhi kemuliaan Allah, sehingga jalanmu akan seperti cahaya fajar yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.
